ineventarisasi dan pemanfaatan bambu di NTT


PROPOSAL PENELITIAN
INVENTARISASI JENIS-JENIS BAMBU (Bambusa sp.) DI DESA EKATETA 
KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG




OLEH
DENIANUS HINGMADI
Nim   :   08   1030   3007





PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIAK DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PGRI NTT
KUPANG
2011
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmatNya lah sehingga penyusun dapat menyelesaikan dapat menyelesaikan  proposal penelitian  ini tepat pada waktunya dengan judul “ INVENTARISASI JENIS-JENIS BAMBU DI DESA EKATETA KECAMATAN FATULEU KABUPATEN KUPANG ”
Penulisan proposal ini sebagai salah satu syarat Praktek Kerja Lapangan juga sebagai salah satu refrensi bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mengetahui jenis-jenis terhadap masyarakat.
            Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memfasilitasi penyusunan proposal ini.
            Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan senang hati penulis akan menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan proposal ini.




                                                                                Kupang,    Oktober  2011


                                                                                           Penulis





DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..........................................................................................    i
Daftar Isi ...................................................................................................     ii
BABA I PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang .............................................................................      1
2.      Rumusan Masalah ........................................................................      2
3.      Tujuan Masalah ............................................................................      2
4.      Manfaat Penulisan ………………………………………………     2
BAB II TINJAUAAN PUSTAKA
  1. Ekologi Bambu .............................................................................     4
  2. Syarat Tumbuh Bambu .................................................................     4
C.     Potensi Bambu ..............................................................................     6
D.    Manfaat Tanaman Bambu .............................................................     7
E.     Pengembangan Tanaman Bambu ……………………………….      10
F.      Kelemahan dan Kelebihan Bambu ………………………………    11
G.    Jenis-Jenis Bambu ………………….............................................     13
BAB III METODE PENELITIAN
A.    Waktu dan Lokasi Penelitian .........................................................    16
B.     Alat dan Bahan ..............................................................................    16
C.     Metode Penelitian ………………………………………………..    16
D.    Prosedur Penelitian ………………………………………………    17
E.     Analisis Data ……………………………………………………..    18
DAFTAR PUSTAKA
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Bambu merupakan jenis rumput-rumputan yang tumbuhnya merumpun dan beruas. Bambu merupakan anggota famili Poaceae yang terdiri atas 70 genus. Bambu termasuk jenis tanaman yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Beberapa jenis bambu mampu tumbuh hingga sepanjang 60 cm dalam sehari.
Bambu merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang banyak tumbuh di hutan sekunder dan hutan terbuka, walaupun ada diantaranya yang tumbuh di hutan primair. Bambu juga merupakan salah satu tanaman ekonomi Indonesia yang banyak tumbuh di kebun masyarakat dan di pedesaan. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan secara intensif, namun tumbuhan ini belum menjadi tumbuhan yang dapat meningkatkan nilai devisa negara.
 Indonesia diperkirakan memiliki 157 jenis bambu yang merupakan lebih dari 10% jenis bambu di dunia. Menurut Widjaja (2001) Jenis bambu di dunia diperkirakan terdiri atas 1200-1300 jenis sedangkan menurut data lapangan dan laboratorium bahwa bambu di Indonesia diketahui terdiri atas 143 jenis.  Di antara jenis bambu yang tumbuh di Indonesia, 50% di antaranya merupakan bambu endemik dan lebih dari 50% merupakan jenis bambu yang telah dimanfaatkan oleh penduduk dan sangat berpotensi untuk dikembangkan. Menurut Widjaja (2001) bambu di Kepulauan Sunda Kecil yang termasuk di antaranya Lombok, Sumbawa, Flores, Timor, Sumba dan pulau-pulau di sebelah timur Flores terdiri atas 14 jenis. Untuk daerah NTT diperkirakan sekitar  10 jenis bambu tetapi informasi ini belum terekam dengan jelas karena kurangnya informasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan inventarisasi untuk melengkapi data jenis-jenis bambu di Nusa Tenggara Timur dengan harapan jumlah dan keanekaragaman jenis bambu di pulau ini dapat terekam dengan baik
Berdasarkan pemikiran diatas maka penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul “Inventarisasi Jenis-jenis Bambu (Bambusa sp) di desa Ekateta kecamatam Fatuleu kabupaten Kupang” 
B.     RUMUSAN MASALAH
Bertolak dari pembahasan di atas maka rumusan masalah yang di ambil adalah:
1.      Jenis-jenis bambu (bambusa sp) apa saja yang tumbuh di desa Ekateta kecamatan Fatuleu kabupaten Kupang?
2.      Bagaimana dengan jumlah dari tiap jenis  bambu  (bambusa sp)  yang tumbuh di desa Ekateta kecamatan Fatuleu kabupaten Kupang?
C.    TUJUAN PENELITIAAN
Adapun tujuaan dari penelitiaan ini yaitu:
1.      Untuk mengetahui Jenis-jenis bambu (bambusa sp) apa saja yang tumbuh di desa Oekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang
2.      Untuk mengetahui Jumlah dari tiap  jenis bambu (bambusa sp) yang tumbuh di desa Ekateta kecamatan Fatuleu kabupaten K upang


D.    MANFAAT PENELITIAAN
Manfaat dari penelitiaan ini adalah:
1.      Memberikan informasi kepada mahasiswa  mengenai jenis-jenis bambu di desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang
2.      Memberikan informasi kepada masyarakat   mengenai jenis-jenis bambu di desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang
3.      Memberikan informasi kepada pemeritah  mengenai jenis-jenis bambu di desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang  agar menjaga kelestarian dari jeni-jenis bambu (bamboo)
4.      Sebagai bukti inventaris jenis-jens bambu (bamboo) yang ada di desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang

BAB II
TINJAUAAN PUSTAKA
A.    Ekologi Bambu
Bambu sebagai salah satu tumbuhan daerah tropis dan subtropik. Termasuk dalam devisi spermatophyta, subdevisi angiospermae, klas monocotyledonae, ordo Graminales, family graminiae, sub family bamusoideae. Secara alami bambu dapat tumbuh pada hutan primer maupun hutan skunder (bekas perladangan dan belukar). Pada umumnya bambu menghendaki tanah subur, sedangkan jenis lainnya dapat tumbuh pada tanah yang kurang merupakan jenis tanaman berkayu masuk dengan tempat tumbuhnya bambu adalah curah hujan yang cukup, minimal 1000 mm/thn ( Anonim, 1998).
Anonim (1999), mengemukan bahwa tanaman bambu dapat tumbuh mulai dari 0 – 1500 m dari permukaan laut, bahkan jenis –jenis yang berbatang kecil dijumpai tumbuh pada ketinggian antara 2000-3750 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 3750 m dari atas permukaan laut, habitusnya berbentuk rumput.
B.     Syarat Tumbuh Bambu
Menurut Anonim (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi syarat tumbuh bambu adalah sebagai berikut :
1. Tanah
Bambu dapat tumbuh baik pada semua jenis tanah terutama jenis tanah asosiasi latosol cokelat dengan regosol kelabu. pH tanah yang dikehendaki antara 5,6 – 6,5.
2. Ketinggian Tempat
Tanaman bambu dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi yaitu antara 0 – 1000 mdpl bahkan jenis-jenis yang berbatang kecil dijumpai tumbuh pada ketinggian antara 2000-3750 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 3750 m dari atas permukaan laut, habitusnya berbentuk rumput.
3. Iklim
Faktor yang mempengaruhi adalah curah hujan, suhu udara dan kelembapan udara. Adapun kondisi yang baik adalah sebagai berikut :– 360º C, Kelembapan : 80 %
4. Teknik Pembibitan
Perbanyakan tanaman bambu dapat dilakukan dengan cara vegetatif dan generatif, perbanyakan generatif melalui bijinya, sedangkan perbanyakan vegetatif melalui stek batang atau stek rhizoma.
5. Pola Tanam
a. Penanaman Monokultur
Penanaman bambu secara murni dilakukan dengan menanam satu jenis bambu pada seluruh areal yang luas, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar.
b.  Penanaman Campuran
Penanaman tanaman bambu ditanam bersama-sama dengan tanaman lainnya dengan tujuan mengendalikan erosi dan mempertahankan kesuburan tanah.
C.     Potensi Bambu
Potensi jenis bambu didunia dikenal dalam 75 genus dan terdiri atas 1500 spesies. Di Indonesia terdapat kira-kira 10 genus yaitu Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Dinochloa, Gigantochloa, Melacanna, Nastus, Phyllostachys, Shizostachyum dan Thyrostachys. Di Asia terutama didaerah Indo-Burma dikenal kira-kira 300 species, di India kira-kira 136 spesies, di Burma kira-kira 39 spesies, Di Malaysia kira-kira 29 spesies, di Jepang 9 spesies, di Philipina 30 spesies. Selanjutnya dikatakan bahwa hanya 5 spesies saja (termasuk dalam 2 genus) yang tumbuh asli di Indonesia, sedangkan lainnya merupakan jenis eksotik. Kelima spesies ini termasuk dalam kualitas yang rendah. Adapun cirri-cirinya adalah berdinding tipis, tumbuh asli di Indonesia, sedangkan spesies yang berdinding tebal dan beruas panjang berasal dari Burma serta negara Asia lainnya (Nur Berlian, 1995).
Bambu juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif atau biofuel yang ramah lingkungan. Pohon bambu juga berfungsi sebagai penjernih air. Oleh karena itu daerah bantaran sungai yang banyak pohon bambu, air sungai tersebut terlihat jernih. Bambu yang dimanfaatkan umumnya yang sudah masak tebang, lebih kurang berumur empat tahun dan pemanenannya dengan sistem tebang pilih. Setelah ditebang biasanya direndam dalam air mengalir, air tergenang, lumpur, air laut atau diasapkan. Kadang-kadang diawetkan juga dengan bahan kimia. Kegiatan selanjutnya adalah pengeringan (Batubara, 2002).
Tanaman bambu berpotensi menjadi solusi alternatif bagi sejumlah permasalahan lingkungan terutama dalam mengatasi pemanasan global.
Menurut Widjaja (2004), cepatnya pertumbuhan bambu dibanding dengan pohon kayu, membuat bambu dapat diunggulkan untuk deforestasi. Selain itu bambu juga merupakan penghasil oksigen paling besar dibanding pohon lainnya. Bambu juga memiliki daya serap karbon yang cukup tinggi untuk mengatasi persoalan CO2 di udara, selain juga merupakan tanaman yang cukup baik untuk memperbaiki lahan kritis. Selain itu Indonesia memiliki bambu sebagai sumber daya lokal terbarukan dengan potensi yang luar biasa dari aspek lingkungan alam dan sosial ekonomi.
D.    Manfaat Tanaman Bambu
Menurut BAPEDAL, (2010), manfaat bambu tersebut adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Ekonomi
a.    Sebagai bahan pembuatan rumah, jembatan dan alat penangkapan ikan.
b.   Sebagai bahan dasar bagi kerajinan rakyat untuk mebuatan alat-alat rumah tangga seperti meuble, hiasan dan alat-alat dapur.
c.    Memenuhi kebutuhan konsumen domestik dan mancanegara (Taiwan, Singapura dan Hongkong) yaitu sebagai alat bantu makan seperti sumpit dan pencukil gigi yang terbuat dari bambu
d.   Rebung bambu merupakan salah satu bahan pangan dari banyak penduduk di Jawa Timur khususnya dalam bentuk sayuran bambu.
e.    Bambu banyak dimanfaatkan pula sebagai bahan pembuatan pulp yang berkualitas tinggi.
f.    Bambu dapat pula dipakai sebagai bahan obat-obatan. Ilmu pengobatan tradisional banyak menggunakan bambu sebagai bahan bakunya baik dari daun, kulit luar dan kulit dalam dari batang dan rebungnya. Contohnya Rebung bambu kuning dapat digunakan untuk obat sakit kuning (Lever).
2.  Manfaat Ekologi (Lingkungan Hidup)
a.    Bambu mempunyai pertumbuhan yang cepat, sistem perakaran yang kuat dan luas sehingga dapat mencegah erosi, tanah longsor dan banjir.
b.    Penanaman bambu pada hamparan lahan kritis yang luas diharapkan akan dapat meningkatkan daya dukung lingkungan.
c.    Sebagai tanaman yang memiliki total luas daun yang besar dan berbulu halus serta mempunyai jaringan akar yang luas, maka tanaman bambu dapat ikut menyerap dan mengikat berbagai bahan dan gas pencemar di udara, tanah dan air.
d.   Asli dari Indonesia, sehingga bambu mempunyai peranan penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
e.    Dengan bentuk dan jenisnya yang beranekaragam bambu dapat digunakan sebagai tanaman hias pertanaman di perkotaan, sehingga dapat menambah keindahan dan kesejukan lingkungan.
f.     Dalam komunitas yang luas bambu dapat menjadi habitat berbagai jenis satwa liar seperti burung, bajing dan lain-lain.
Bambu merupakan suatu ekosistem yang unik dengan fungsi bermacam-macam dan terdiri dari :
a)    Fungsi Hidrologis
Fungsi hidrologis yaitu menjaga ketersediaan sumber air tanah, sebagai penahan erosi guna mencegah bahaya banjir, serta mempertahankan kelestarian lingkungan hidup.
b)   Fungsi Ekonomis
Fungsi ekonomis yaitu sebagai sumber bahan bangunan ( tiang rumah, atap rumah dan dinding rumah), bahan kerajinan tangan, makanan, obat-obatan dan bahan selolosa pembuatan kertas serta produk ekonomis lainnya.
c)    Fungsi Sosial
Fungsi sosial ini berupa pemberian cuma-cuma bagi yang membutuhkannya, hal ini dapat dilihat dari pedesaan.
d)   Fungsi Pertahanan
Fungsi pertahanan ini dapat dikatakan sangat tradisional dan bersifat historis, yang dialami masyarakat pada jaman penjajahan.
Nur Berlian (1995) menyatakan bahwa secara garis besar pemanfaatan batang bambu dapat dipisahkan kedalam dua golongan:
1.    Berdasarkan bentuk bahan baku yaitu bambu yang masih dalam keadaan bulat, bambu yang dibelah, gabungan bambu bulat dan bambu belah, serta serat bambu.
2.    Berdasarkan penggunaan akhir, yaitu untuk kontruksi dan non kontruksi.
Batang bambu yang masih dalam keadaan bulat dapat dimanfaatkan untuk komponen bangunan rumah, seperti dinding, atap rumah, lantai, pintu, jendela dan tiang, juga sebagai komponen kontruksi jembatan pipa saluran air dan sebagainya. Batang bambu yang sudah dibelah banyak dimanfaatkan untuk industri kerajinan dalam bentuk anyaman atau ukiran untuk keperluan hiasan, perabot rumah tangga dan lain lain.
Batang bambu bulat dan belah banyak dimanfaatkan untuk industri furniture, seperti meja, kursi, lemari, rak dan tempat tidur. Bambu dalam bentuk serat dapat dimanfaatkan dalam bentuk pulp. Pembagian berdasarkan penggunaan akhir kedalam kontruksi dan non kontruksi disebabkan oleh banyaknya penggunaan bambu dibidang kontruksi. Nur Berlian V.A. dan Estu Rahayu 1995 mengatakan bahwa di Indonesia sekitar 80% dimanfaatkan dalam bentuk lain seperti kerajinan, furniture, chostick, industri pulp, serta keperluan lainnya.
E.     Pengembangan Tanaman Bambu
Adapun cara pengembangan bambu yaitu :
1)   Sebagai pengendali erosi dan konservasi air dapat dikembangkan pada lahan kritis sekaligus sebagai tanaman penghijauan.
2)   Sebagai upaya pengendali tanah longsor dan banjir dapat dikembangkan di tebing-tebing sungai, tepi jurang, tanah-tanah perbukitan dan tanah kosong lainnya.
3)   Untuk menambah keindahan, keasrian lingkungan dapat dikembangkan bambu hias tanam ditanam kota, perkarangan rumah, tepi lapangan, ditepi jalan, halaman sekolah dan halaman rumah.
4)   Sebagai upaya penanggulangan polusi udara dan kebisingan dapat dikembangkan pula taman bambu dan bambu hias di lingkungan industri, halaman pabrik dan di lingkungan perumahan.
5)   Pada kawasan penyangga kawasan lindung dapat dikembangkan di lahan milik rakyat sebagai pemilikan atau di kawasan hutan sebagai tanda batas hutan antara lahan milik dan lahan hutan milik Negara.

F.      Kelemahan dan Kelebihan Bambu
1.      Kelebihan Bambu
Bambu mudah menyesuaikan diri dengan kondisi tanah dan cuaca yang ada, serta dapat tumbuh mulai 0- 1500 m dari di atas permukaan laut. Bambu tumbuh berumpun dan memiliki akar rimpang yaitu semacam batang bukan akar maupun tandang. Bambu memiliki ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran lebih kecil dibandingkan dengan bulunya sendiri. Pada ruas-ruas ini, tumbuh akar-akar yang memungkinkan untuk memperbanyak tanaman ini dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya. Menurut Wahyudin (2008), ada tiga kelebihan bambu jika dibandingkan tanaman kayu antara lain :
1.    Tumbuh dengan cepat
Bambu merupakan tanaman yang dapat tumbuh dalam waktu yang singkat dibandingkan dengan tanaman kayu. Dalam sehari bambu dapat bertambah panjang 30-90 cm. Rata-rata pertumbuhan bambu untuk mencapai usia dewasa dibutuhkan waktu 3-6 tahun. Pada umur ini, bambu memiliki mutu dan kekuatan yang paling tinggi. Bambu yang telah dipanen akan segera tergantikan oleh batang bambu yang baru. Hal ini berlangsung secara terus menerus secara cepat sehingga tidak perlu dikhawatirkan bambu ini akan mengalami kepunahan karena dipanen. Berbeda dengan kayu, setelah ditebang akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menggantinya dengan pohon baru.
2.    Tebang Pilih
Bambu yang telah dewasa yakni umur 3-6 tahun dapat dipanen untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Dalam memanen dapat melakukan dengan dua cara yaitu dengan metode tebang pilih dan tebang habis. Tebang habis yaitu menebang semua batang bambu dalam satu rumpun baik batang yang tua maupun yang muda. Metode ini kurang menguntungkan karena akan didapatkan kualitas bambu yang berbeda-beda dan tidak sesuai dengan yang diinginkan, selain itu akan memutuskan regenerasi bambu itu sendiri. Metode tebang pilih adalah metode penebangan berdasarkan umur bambu. Metode ini sangat efektif karena akan didapatkan mutu bambu sesuai dengan yang diinginkan dan kelangsungan pertumbuhan bambu akan tetap berjalan.
3.    Meningkatkan Volume Air Bawah Tanah
Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat. Struktur akar ini menjadikan bambu dapat mengikat tanah dan air dengan baik. Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40%. Bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %.
2.      Kelemahan Bambu
Kelemahan bambu terdapat pada sifat dari keawetan/ketahanannya. Keawetan/ketahanan bambu adalah daya tahan bambu terhadap berbagai faktor perusak bambu terhadap serangan rayap, bubuk kayu kering dan jamur perusak bambu. Ketahanan alami bambu lebih rendah dibandingkan dengan kayu. Ketahanan bambu tergantung pada kondisi iklim dan lingkungan. Bambu tanpa perlakuan khusus dapat bertahan antara satu sampai tiga tahun jika berinteraksi dengan tanah dan udara. Jika berinteraksi dengan air laut usianya kurang dari satu tahun. Jika diawetkan usianya biasa mencapai 4-7 tahun dan dalam kondisi tertentu biasa mencapai 10-15 tahun (Swara, 1997).
G.    Jenis-Jenis Bambu
1.         Bambu hijau (Gigantochloa apus)
Bambu hijau secara umum berbuluh tegak, batang berwarna hijau kekuning-kuningan, tingginya mencapai 15 m, diameter batang 6-12 cm, tebal dinding batang mencapai 10 mm, dengan panjang ruas (jarak buku) 40-60 cm.
Klasifikasi Bambu hijau menurut Widjaja (2001) adalah sebagai berikut :
Nama daerah        : Buluh hijau (Melayu), Buluh regen (Karo), Buluh                                Yakyak (Gayo)
Indonesia             : Bambu hijau
Genus                   : Gigantochloa
Spesies                 : Gigantochola apus
2.         Bambu talang (Schizostachyum brachycladum)
Bambu talang berbentuk rumpun dan punya ranting banyak (manggarai), bela (jawa), berwarna hijau. Bambu talang dapat tumbuh didaerah tropis yang lembab dan juga di daerah kering, baik didataran rendah dan dataran tinggi. Dicirikan oleh kotornya pelepah buluh yang melekat pada bulunya. Tinggi buluh biasa mencapai 10 meter – 15 meter, dengan diameter mencapai 7 meter, dengan panjang ruas 30 – 40 cm dengan dinding tipis, dan tebal 6 milimeter.
Klasifikasi Bambu talang menurut Widjaja (2001) adalah sebagai berikut:
Nama daerah        : Bambu talang sering disebut awi buluh, pereng                                  buluh
Indonesia             : Bambu Talang
Genus                   : Schizostachyum
Spesies                 : (Schizostachyum brachycladum)
3.         Bambu betung (Dendromus calamus asper)
Bambu ini memiliki buluh beludru cokelat pada bagian bawah buluh yang muda sedangkan bagian atasnya tertutup lilin putih yang akan hilang ketika tua. Buluh : Tinggi mencapai 30 meter dengan ujung melengkung, diameter 8-15 cm, panjang ruas 30-40 cm, tebal dinding 1 cm. buluh muda bagian bawah tertutup beludru cokelat.
Klasifikasi Bambu betung menurut Widjaja (2001) adalah sebagai berikut :
Nama daerah        : Bambu betung memiliki nama daerah yaitu betung,                                 beto (manggarai), bheto (bajawa), oopatu (bima),                                 patung (tetun).
Indonesia             : Bambu betung
Genus                   : Dendromus
Spesies                 : Dendromus calamus asper
4.         Bambu kuning (Bambusa vulgaris )
Dicirikan oleh buluh yang tegak, hijau atau kuning bergaris hijau mengkilat, dengan percabangan horizontal di permukaan tanah. Tinggi buluh mencapai 30 meter dengan diameter 5-10 cm dan panjang ruas 20-40 cm. Di Indonesia terdiri dari 3 varietas yaitu berbulu hijau, berbulu kuning.
Klasifikasi Bambu kuning menurut Widjaja (2001) adalah sebagai berikut :
Nama daerah        : Bambu Kuning
Indonesia             : Bambu Kuning
Genus                   : Bambusa  Spesies                 : Bambusa vulgaris



BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Ekateta Kecamatan Fatuleu Kabupaten Kupang
B.     Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Alat tulis (buku, pensil) untuk mencacat nama tumbuhan
b.      Kamera untuk mengambil gambar sampel dan semua kegiatan penelitian.
c.       Alat pemotong (gunting, pisau parang) untuk mengambil sampel.
d.      Kertas label untuk membuat label pada tumbuhan
C.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel di lapangan dilakukan dengan metode penjelajahan atau eksplorasi. Untuk menggali informasi masyarakat desa tentang pemanfaatan bambu yang dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara semi struktural (mengacu pada daftar pertanyaan pertanyaan yang telah disiapkan). Data yang dikumpulkan dalam peneltian ini adalah: a) Data dan informasi tentang tentang pemanfaatan tumbuhan bambu oleh masyarakat desa dalam kehidupan sehari-hari, cara meramu atau mengolah bambu untuk mendapatkan hasilnya; b) Informasi botani meliputi nama lokal/ilmiah jenis tumbuhan, bagian atau organ tumbuhan yang digunakan; c) Informasi ekologis meliputi habitat tumbuhan dan penyebaranya. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan gambar.
D.    Prosedur Penelitian
a.       Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan kegiatan awal yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kelompok-kelompok di Kelurahan Naikliu yang selalu memanfaatkan bamboo dengan melakukan komunikasi pada tokoh-tokoh masyarakat setempat. Selanjutnya bersama tokoh masyarakat mendatangi masyarakat yang memanfaatkan bambu untuk menginformasikan tujuan penelitian sekaligus untuk menyampaikan kepada masyarakat untuk kegiatan wawancara.
b.      Penentuan Responden
Penentuan responden merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara pendekatan social yaitu mendatangi semua pihak yang telah didata untuk diwawancarai.
c.       Mewawancarai Responden
Mewawancarai Responden dengan menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah wawancara langsung dan diskusi bersama tokoh-tokh masyarakat setempat. Aspek yang diwawancarai adalah: 1) Jenis tumbuhan bambu yang yang digunakan masyarakat untuk pemanfaatan dalam kehidupannya. 2) Organ tumbuhan yang digunakan sebagai pemanfaatan serta cara pengambilan organ tumbuhan. 3) Teknik pengolahan bambu untuk mendapatkan hasilnya. Untuk diskusi peneliti bertindak sebagai mediator dan membiarkan para anggota berdiskusi. Selanjutnya peneliti membuat kesimpulan dari hasil diskusi dan membaca kembali hasilnya untuk memastikan kebenaran.

E.     Analisis Data
Data yang disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel yang memuat jenis tanaman bamboo dengan pemanfaatannya (nama lokal dan umum) nama ilmiah, family/suku, bagian atau organ yang dimanfaatkan dan dilengkapi dengan gambar.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Sumber Daya Hutan Bambu Untuk Masa Depan Kesejahteraan dan Pembangunan Bangsa. Buletin Kehutanan No 183-184/XX/1995.
Anonim 1998. Usaha Mempertinggi Resitensi Bambu Betung Terhadap Serangan Kumbang. Buletin Fakultas Kehutanan UGM.
Anonim, 2010. Budidaya Bambu Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan. http://kursibambu.wordpress.com/2010/05/08/budidaya-bambu-sebagai-upaya-pelestarian-lingkungan/
Bapedal, 2010. Pelestarian Bambu dan Manfaatnya Terhadap Lingkungan Hidup http://members.fortunecity.com/
Batubara, R. 2002. Pemanfaatan Bambu di Indonesia.
Berlian, N. 1995. Jenis dan Prospek Bisnis Bambu. Penebar Swadaya.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Sumedang. 2001. Potensi Hutan Rakyat Bambu di Kabupaten Sumedang. Sumedang.
Widjaja, E. A. 2004. Jenis-Jenis Bambu Endemik dan Konservasinya di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Biologi XV.
Widjaja, E.A. 2001. Identikit Jenis-jenis bambu di Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bilologi. LIPI. Bogor.






Komentar